#9 Tips Menulis Artikel yang SEO Friendly

#9 Tips Menulis Artikel yang SEO Friendly

Sejujurnya, saya bukan the big fans of SEO Friendly articles. Itu bisa dilihat dari tulisan-tulisan saya, misalnya saja di blog ini. Tapi bukan berarti ketika saya menulis artikel, saya gak mikirin SEO, saya pikirin jelas. Intinya, secara keseluruhan, saya gak memaksakan sebuah artikel SEOnya harus 100%, karena artikel terkadang bakal jadi aneh banget dibaca. Ujungnya orang males baca dan bounce rate tinggi.

Nah, disini saya akan coba jelaskan parameter apa saja sih yang seharusnya terpenuhi dalam hal urusan menulis artikel yang SEO Friendly. Semoga ini bisa jadi patokan temen-temen buat menulis artikel atau memberikan acuan ke para penulis artikel yang jasanya sering dipakai.

Judul

Kata kunci ini gak harus 100% exact keyword kok, karena Google sendiri udah keren banget algoritamanya sekarang ini.

Saya kasih 1 contoh sederhana misalnya kaya gambar di bawah ini.

Ada beberapa poin yang bisa kita sama-sama amati disini. Poin pertama situs alodokter ini tidak menggunakan exact keyword pada judul. Gak ada tuh kalimat “cara mengatasi keputihan”, tapi tetep bisa di halaman pertama Google.

Poin kedua, di judul bahkan gak ada kata “menghilangkan”, yang ada adalah “mengobati”. Hal tersebut karena memang Google udah paham sinonim kata.

Artinya, kita gak perlu nulis judul “Cara Mengobati atau Menghilangkan Keputihan”, cukup gunakan salah satu aja.

Kalau panjang judul yang baik buat SEO berapa ya mas?

Nah ini agak susah buat menjadi patokan. Dulu kita bisa menghitung berdasarkan karakter (120-160 karakter) untuk judul, tapi sekarang Google ternyata juga menghitung berdasarkan skala pixels.

Penjelasannya dan cara optimalisasinya nanti saya jabarkan di bagian Meta Deskripsi ya, biar sekalian 😀

Deskripsi

Secara teori dasar, hampir sama kaya nulis judul diatas, gak beda jauh lah. Intinya gak perlu memaksakan kata-kata yang bersifat sinonim di tulis secara keseluruhan dan gak perlu kata kuncinya ditulis secara utuh (exact keyword).

Yang terpenting adalah kita menjelaskan dengan secara singkat dan padat mengenai apa yang menjadi inti dari artikel tersebut.

Kita lanjut ke pembahasan masalah pixels pada judul yang tadi sudah dibahas ya.

Jadi…

Update terbaru soal judul dan meta deskripsi sekarang ternyata gak cuma berfokus pada panjang karakter aja, tapi juga menggunakan skala pixels.

Kenapa begitu? Karena hasil pencarian di Mobile dan Dekstop itu beda. Di dekstop bisa pas tanpa terpotong, di mobile kepotong.

Untuk judul, panjang maksimalnya adalah 580 pixels, kalau dihitung secara karakter kurang lebih sekitar 67 karakter.

Sementara untuk deskripsi, ini bisa berbeda-beda antara mobile dan dekstop.

  • Di mobile panjang maksimal adalah 120 karakter atau 680 pixels
  • Do dekstop panjang maksimal sekitar 158 karakter atau 920 pixels

Dari situ kita bisa mengambil kesipulan bahwa sebaiknya kita menggunakan standard mobile untuk urusan optimalisasi meta description.

Karena apa?

Karena kalau pakai yang standard dekstop kepanjangan yang di mobile, tapi sebaliknya kalau kita pakai yang standard mobile, yang di dekstop aman.

Tips dari saya, sebelum di publish silahkan cek dulu menggunakan Google search results preview tool dari Spotibo.

Tinggal masukkin aja di kolom title dan meta description kaya gambar di bawah ini. Nanti ketahuan deh berapa pixels-nya dan berapa karakternya.

Sttttt… jangan lupa yang nyontek “tanda centang” di judul itu, masukkin juga tanda centangnya ya pas ngitung. Apalagi kalau setting otomatis lewat plugin SEO-nya.

Ini udah basi banget lah ya, udah pada tahu. Tapi 1 tips dari saya adalah gunain URL yang pendek aja.

Let’s say di blog ini untuk artikel yang judulnya “Blueprint SEO: Cara Saya Melakukan SEO dari A sampai Z”, saya cuma gunain URL pendek dengan mengambil keyword utamanya, yakni cukup airul.blog/blueprint-seo

Cara ini dipakai banyak praktisi luar negeri, misalnya saja backlinko.com dan Neil Patel, coba deh di cek URL di setiap artikel yang dia tulis.

Kenapa lebih bagus URL pendek mas?

Ini berdasarkan sebuah interview antara Stephan Spencer dan Matt Cutts (dulu head of spam-ya Google, sekarang udah resign), bisa dibaca disini interview lengkapnya. Kalau males baca dan gak ngerti bahasa Inggris, poin utamanya bunyinya gini.

If you can make your title four- or five-words long – and it is pretty natural. If you have got a three, four or five words in your URL, that can be perfectly normal. As it gets a little longer, then it starts to look a little worse. Now, our algorithms typically will just weight those words less and just not give you as much credit.

Matt Cutts

Intinya, yang bagus itu sekitar 3-5 kata di URL (permalink). Google lebih ngasih “bobot” lebih untuk URL yang gak terlalu panjang.

Artikel

Awal artikel itu gak harus di awal paragaf ya, ini yang sering saya lihat kesalahannya. Gak salah sih naruh keyword di awal paragraf, tapi kadang jadi cenderung aneh pembukaan artikelnya.

Awal artikel itu ada pada 10% awal artikel, kisarannya antara paragraf pertama dan kedua, tapi tergantung panjang kalimat di setiap paragraf juga sih.

Poin selanjutnya untuk urusan penulisan artikel secara menyeluruh.

Orang menyebutnya dengan dek siti, eh maksud saya density. Density yang baik itu berapa sih sebenernya?

Kalau menurut saya, yang baik itu sekitar 0,5% – 1% dari keseluruhan panjang artikel. Jadi gak ada patokan khusus harus di ulang berapa kali, semua tergantung panjang artikelnya aja. Jadi hitungannya berdasarkan persentase.

Trus apakah harus bener-bener nurutin density?

Kalau saya gak harus-harus banget, karena ya banyak alasan. Misalnya kaya kasus yang disebut pada judul dan deskripsi tadi. Iya, yang “mengatasi” dan “mengobati”.

Kalau di artikel saya mengunakan 2 kata sinonim tersebut secara bergantian, tentunya density gak akan tercapai sesuai kaidah SEO. Kalau kita maksain density untuk kasus seperti itu, ya dobol dewe rek.

Panjang Artikel

Panjang artikel minimal yang baik menurut saya di kisaran 600 kata. Semakin panjang tentunya semakin baik, tapi kalau panjang dan jadinya muter-muter ya bisa jadi jelek juga.

Inget dua hal kalau mikir panjang artikel:

  • Minat baca orang Indonesia itu Rendah
  • Mayoritas orang membaca dengan teknik skimming (Googling kalau belum tau apa itu teknik membaca skimming)

Dari 2 hal diatas, harusnya kita paham harus membuat konten yang bagaimana untuk user Indonesia. Gak usah panjang-panjang, kecuali kalian bisa menyajikan artikel yang bener-bener berbobot dan membuat orang bener-bener betah membaca.

Percuma nulis artikel yang panjang, di backlink, trus naik, tapi kemudian terjun bebas karena bounce rate tinggi.

Banyak nih curhatan ke saya kaya gini, yang disalahin backlink-nya. Giliran di audit total yang bermasalah konten-nya.

Heading

Kata kunci pada heading ini gak usah di masukin ke setiap heading juga, jadi aneh. Cukup gunakan pada beberapa heading yang dirasa memang tepat aja. Kata kunci pada heading ini cukup di ulang sekali aja udah cukup memenuhi kaidah SEO kok.

Saya biasanya cuma pada H2.

Internal link kalau saya sih bebas mau gimana ngaturnya. Ada beberapa orang yang bilang sebaiknya internal link jangan bolak-balik, cukup searah aja.

Kalau saya sih bebas aja, mau bolak-balik ya monggo.

Kenapa demikian?

Internal link itu gak cuma yang nancep di artikel kok, widget pos terbaru juga internal link. Related post juga internal link. Dan tanpa disadari, internal link yang dari widget dan sebagainya ini kan bisa bolak-balik (dua arah).

Teknis internal link-nya gimana mas?

Kalau saya, yang related satu sama lain, syukur-syukur bisa diarahkan menggunakan kalimat. Kalau gak bisa, pakai Baca juga: blablabla, juga gak masalah. Kuncinya related.

ALT Image

Sejauh pengamatan saya nih, ALT image sebenernya gak punya pengaruh besar dalam hal ranking. Coba amati deh keyword-keyword yang kontennya malah gak pakai gambar, banyak kok yang ngeranking. Kalau gak pakai gambar, artinya gak pakai ALT image juga dong.

Terkecuali kalian pengen grab visitor dari Google Images ya. ALT image harus mengandung kata Kunci.

Apalagi ya? mungkin segitu dulu kali. Seperti biasa, kalau ada yang ingin ditanyakan bisa lewat komentar di blog ini ya. Jangan di Facebook, biar kalau ada temen-temen lain yang baca artikel ini dan mungkin punya pertanyaan yang sama bisa terbantu juga.

Table of Content

Ini opsional aja sih. Kalau mau pakai, akan lebih bagus. Kalau yang belum tau, itu yang bagian atas artikel ini, yang kalau di klik langsung ngarah ke bagian-bagian tertentu.

Apa sih gunanya Table of Content?

Biar gambar yang menjelaskan aja deh.

Atau kaya gini.

Untuk plugin ada banyak kok yang gratis, kalau saya lebih suka pakai plugin Powerkit. Termasuk yang di blog ini juga pakai Powerkit.

Kenapa saya pakai Powerkit?

Karena plugin ini bisa atur manual, kira-kira heading apa yang gak mau saya masukkin ke daftar isi. Contohnya coba liat bagian section kesimpulan di bawah ini, meskipun dia H3, saya bisa atur agar dia gak masuk daftar isi yang diatas.

Kesimpulan

Dari sekian banyak tips diatas, fokus utamanya pada dasarnya adalah jangan terlalu berpaku pada exact keyword dalam hal penulisan artikel, terlebih hanya untuk mengejar density biar warnanya ijo.

Kata kunci bisa dibuat dengan beragam variasi kata, misalnya kata kunci “cara mengatasi keputihan”. Gak harus mengulang-ulang kalimat tersebut demi density, karena hal tersebut bisa membuat artikel jadi aneh.

Kita bisa membuat variasi misalnya:

  • Cara alami mengatasi keputihan
  • Bahan alami untuk mengatasi keputihan
  • Dsb

Intinya, gak harus maksa mengulang-ulang “cara mengatasi keputihan” demi memenuhi density score.

Terakhir…

Biasanya banyak nih yang nanyain rekomendasi inilah, itulah di setiap artikel yang saya tulis. Nah kali ini saya pingin sekalian promosi deh, kali aja kalian butuh jasa penulis artikel yang bisa bantu nulis artikel sesuai dengan yang diatas nih, saya ada beberapa rekomendasi:

Pertama: Istri saya Venicka, bisa di hubungi lewat FB: https://www.facebook.com/venicka.ap (Whatsapp nanti saya update, saya gak tau nomor bisnis dia :D).

Kedua: Tim Mastah SEO, Fahmi, bisa di hubungi lewat FB: https://www.facebook.com/fahmipedia (untuk Whatsapp-nya langsung aja klik disini untuk).

Ketiga: buat penyedia layanan penulis artikel, silahkan tinggalkan kontak lewat komentar aja ya kalau mau numpang promo. Kali aja 2 nama diatas lagi full. Tentunya kalau jasa penulis artikelnya baca ini, bisalah bikin artikel seperti yang saya maksud.

Ditulis dengan penuh cinta,

Airul.

Total
23
Shares
26 komentar
  1. Sedikit camilan sebelum sahur, nih 🙂

    Untuk poin terakhir, Mas, misal ada temen² yang males pasang²in ALT Tag pada setiap gambar di postingan, tapi tetep mau pake ALT Tag, bisa juga tuh pake plugin nya
    (saya lupa namanya) nanti ada Title + Deskripsi juga malahan. Cuma risikonya kalau plugin semakin banyak ya bisa pengaruh juga ke load time websitenya.

    Sama kalau boleh menambahkan, Mas, bisa juga nih temen² sertakan keyword² terkait/turunan (LSI Keyword) biar makin bervariasi kata kuncinya. Syukur² LSI Keyword ada yang merangsek duluan ke pejwan, meski volume search nya sedikit tapi Alhamdulillah juga. Ga jarang juga dari KW yg kecil² mendorong KW dengan volume besar ikut naik secara perlahan.

    Kalau mau liat keyword LSI bisa pakai keyworshitter.com (bukan punya saya). Lebih joss lagi kalau install add on Keyword Everywhere di browser karena nanti setelah grab keyword turunan juga bisa keliatan volume searchnya di bawah, tinggal dipilah² aja mana yang mau dipake (opsional).

    Jadi kalau udah begitu kita bisa lebih mudah buat pasang keyword dan gak stuck di exact keyword yang justru terkesan spammy.

    Ya, itu aja, Mas, tambahannya. Btw makasih udah nulis tips² ini, semoga bermanfaat dan bisa diterapkan sama kita semua. 🙂

  2. Selamat pagi pak,
    ane tertarik di duni perSEOan dan mulai pantengin blog ente.
    saya mau tanya, banyak faktor yang mempengaruhi seo. Terus untuk blog dengan tema news gitu apakah bisa diseo?
    Dari segi permalink web tema news saya pribadi permalink aja sudah pakai domain.com/category/post.

    Adakah tips tipsnya untuk blog news

    1. Secara SEO standard, semua jenis web, mau news, mau blog, mau landing page gak ada perbedaan yg jauh. Jadi semua web ya bisa di SEOin, sekelas detik.com aja ada tim SEOnya.

      Blog news-nya sudah terdaftar di Google News belum?
      – Kalau belum, bisa pelajari terlebih dahulu soal ini.
      – Kalau sudah, bisa di optimasi pakai parameter SEO khusus web google news, misal schema news, sitemap khusus news. Dan beberapa parameter lain.

  3. Terkadang terpentok pada permintaan pembeli mas hehe, rata-rata banyak yang minta ngejar density score.. 2-3%
    menurut mas, baiknya kita kasih masukan saja untuk artikelnya atau kita ikuti sesuai pesanan saja? suwun

  4. Masyallah mas gak sadar udah kelar aja baca nya.. saya mengikuti banyak pelajaran dari mastah seo dan saya terapkan di web platfrom blogger saya dan alhamdulilah web web platform blogger bisnis saya mempunyai kenaikan yg signifikan nah Ada 1 pertanyaan mas.. saya agak heran untuk permalink page dan post klw soal paling cepat naik nya malah mode page apa memang page pada mode platform blogger mempunyai kelebihan sendiri atau untung untungan?

    #terimakasih

    1. Saya tidak bisa bantu jawab lebih karena saya bukan pengguna blogger. Tapi mungkin bisa di analisa dari beberapa aspek, misalnya aja dari permalink yg saya sebutkan diatas. Untuk post setahu saya, di blogger ada tanggalnya, jadi bikin URL artikel jadi sangat panjang.

      Tapi ini baru bersifat kemungkinan ya, perlu audit yang sangat mendalam.

  5. Keren nih.. Di awal bilang mas Airul kalau nulis nggak maksain SEO sampai 100. Tapi bener bawaannya adem terus baca artikel mas Airul ini, natural banget..

    Saya mau tanya mas :

    Dua hal ini, Bounce Rate dan Time Visit Duration mana yang lebih pengaruh ke rank ya?

    Saya masih bingung

    1. Keduanya bisa punya pengaruh, tapi bounce rate menurut saya paling kuat pengaruhnya. Karena bounce rate ini kan ketika user klik back dan “bounce” ke Google lagi. Nah karena ini Google punya semacam sinyal tersendiri.

  6. Alhamdulillah, dapet ilmu lagi. Matur nuwun ilmunya, mas. Memang kadang masih ragu antara memaksakan exact keyword atau nulis ngalir aja. Selama ini masih kebawa masukin exact keyword, tapi perlahan-lahan mulai nyoba nulis natural.

    Kalau boleh nanya, misal website yang berisi konten seperti tulisan cerpen, kisah true story, atau tulisan fiksi yang sepertinya sulit memasukkan keyword di sana, apa juga sama cara optimasi SEO-nya, Mas?
    Karena ketika menulis cerpen atau kisah-kisah gitu, kan enggak melalui riset keyword. Mohon pencerahannya, mas. Terima kasih.

    1. Kalau model seperti cerpen dan sebagainya, artikel pastinya ditulis pakai judul yang sesuai dengan isi cerita tentunya, jadi kadang susah buat ngejar SEO.

      Alangkah baiknya kalau buat SEO, ngejar di homepage atau kategori. Misal di kategori keyword-nya Cerpen, cerita anak, dongeng anak, dsb.

  7. Halo mas Airul, salam kenal dan semoga diberikan kesehatan dan kesabaran dalam menjalankan aktifitas sehari-hari, Aamiin

    Mohon ijin cerita + bertanya, mas

    Ceritanya begini, beberapa waktu yang lalu sebelum negara api menyerang saya membuat beberapa artikel dengan nembak 1 keyword, katanya sih biar double listing di google hehe

    Misal judul artikelnya
    => 4 cara mengatasi ………. tanpa pake lama
    => atasi …….. dengan 2 cara ampuh ini!
    => cara mengatasi …….. dengan metode bang2
    => tips menghilangkan ……… yang ampuh
    => dan beberapa variasi judul lain yg juga nembak keyword yg sama

    Nah artikel-artikel di atas, meski nembak keyword yg sama tapi isinya berbeda, karena memang ada banyak variasi cara terkait topik ini..

    Awalnya sih memang berhasil, sering 2 – 3 artikel saya tampil bersamaan di page one google..

    Namun semuanya berubah setelah negara api menyerang , artikel2 tersebut terhempas dari page one entah kemana, tinggal 1 artikel yang paling panjang ulasannya itupun ada di halaman 3, bahkan di google consule hanya 2,5% ctr-nya.

    Selain itu, setelah ditelusuri lagi ternyata ada beberapa keyword LSI terkait topik tersebut..

    Nah pertanyaannya..

    1. Apakah artikel2 tersebut dikumpulkan dan dijadikan 1 artikel saja dan link2 yg lain diredirect ke artikel utama?

    Atau

    2. Artikel2 tersebut dijadikan 1 artikel saja, sedang link2 yg lain dibikinin artikel baru dengan menembak keyword LSI

    Atau

    3. Artikel2 tersebut dijadikan 1 artikel saja, dan link2 yg lain diredirect + keyword LSI juga dimasukkan ke 1 artikel tersebut dan nambah tulisan?

    Atau ada opsi lain?

    Bingung

    Mohon pencerahannya, mas Airul

    1. Halo mas Lutfi, salam kenal jg.

      Dengan kasus seperti yg disebutkan, saya akan memilih poin ke-3 untuk solusi terbaiknya.

      Tapi… jauh sebelum membuat keputusan demikian, saya melihat keyword yg mas maksud ini berkaitan dengan kesehatan ya?

      Jika memang iya, coba mas pelajari terlebih dahulu soal ini: https://www.mastahseo.com/google-search-quality-rater-guidelines. Bisa jadi penyebab anjloknya karena hal tersebut dan akan percuma kalaupun teknis2 diatas dilakuin kalau secara “rules” tidak dibenerin.

  8. Mas bahas update algoritma terbaru sepertinya menarik mas, banyak temen2 yg ngalamin trafik anjlok termasuk saya nih. Kira2 apa saja yang harus diperbaiki karena mungkin dg membuat artikel berbobot saja tidak cukup. Terima kasih.

    1. InsyaAllah nanti setelah momen lebaran ya, beberapa sudah saya singgung lewat satatus FB sih, bisa dibaca-baca disana.

  9. Ulasannya lengkap sekali mas mengenai tips untuk membuat artikel SEO Friendly ini.
    Btw saya mau nanya mas, saya baru main WordPress mas, usia blog baru 2 mingguan dengan 14 artikel. Bagusnya, untuk disuntik Backlink (misal kek guest posts), usia blog minimal udah berapa lama mas ?

    Thanks in Advance

    1. Yg jadi poin bukan kapan musti di backlink, tapi seperti apa cara ngebacklinknya.

      Banyak blog saya umur 1 hari langsung saya backlink dan gak ada masalah yang gimana2. Contoh salah satunya di blog ini, kalau di audit udah ada beberapa backlink dari situs saya yg lain.

      1. Oke Mas Airul terima kasih. Karena kemaren2 soalnya sempat ragu juga, karena ada yang bilang setidaknya usia 1-2 bulan dulu baru disiram backlink. Thanks…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *